Tak Jauh dari Iman


Miqdad bin Amru, salah satu sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang hidup sezaman dengan beliau, dikenal sebagai orang yang alim dalam perkara agama. la termasuk salah seorang yang banyak meriwayatkan hadits Rasulullah. Perawakan Miqdad bin Amru tinggi, rambutnya lebat, jenggot berwarna kekuningan, dan tubuhnya tegap besar. Beliau wafat tahun 33 H di Jurf dalam usia 70 tahun.

Ketika Miqdad berusia remaja, terjadilah perselisihan antara Miqdad dengan para temannya. Puncaknya, Miqdad membunuh salah satu di antara mereka dengan pedangnya. Karena kejadian itu Miqdad lari ke Makkah dan ditampung sekaligus diadopsi oleh Aswad. Dengan adopsi ini, jadilah nama Miqdad dinasabkan kepada Aswad sehingga menjadi Miqdad bin Aswad.

Akan tetapi, setelah firman Allah ta'ala yang berbunyi, “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka,” (QS. Al-Ahzab 33:5)

Maka nama nasab ayahnya digunakan lagi sehingga menjadi Miqdad bin Amru. Meskipun demikian, nama Miqdad bin Aswad lebih populer baginya. Dalam nama panggilan, Miqdad bin Aswad juga sering dipanggil dengan Abu Aswad, Abu Amru, dan Abu Sa’id.

Miqdad bin Amru termasuk golongan  sahabat yang pertama kali masuk Islam. Saat itu terdapat tujuh orang yang terang-terangan memperlihatkan keislamannya, dan Miqdad bin Aswad adalah salah satu di antara mereka.

Sebagaimana para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain, Miqdad juga tidak luput dari tekanan dan siksaan luar biasa yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy. Meskipun demikian, tekadnya untuk tetap berpegang teguh kepada agama Islam tidak menyurutkan sedikit pun ketabahannya untuk melewati cobaan tersebut, hingga pada akhirnya Rasulullah memberi izin kepada kaum Muslimin berhijrah ke Habasyah.

Mulanya, yang turut serta dalam hijrah ini hanyalah berjumlah 14 orang, yaitu 10 laki-laki (termasuk Miqdad) dan 4 perempuan. Kemudian jumlahnya terus bertambah hingga mencapai 83 laki-laki dan 17 perempuan. Selanjutnya, Miqdad pulang kembali bersama para Muhajirin yang berhijrah ke Habasyah, lalu menyusul Rasulullah berhijrah ke Madinah.

Di Madinah, Miqdad membantu Rasulullah dan para sahabat yang lain dalam menyebarkan dakwah Islam yang indah, di samping juga aktif dalam peperangan menegakkan Panji Islam bersama Rasulullah dan kaum Muslimin. Bahkan Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat Rasulullah pernah berkata, "Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini."

Miqdad bin Amru mengambil peran dengan maksimal dalam Perang Badr. Pada perang ini, kaum Muslimin mendapatkan kemenangan yang gemilang atas orang-orang kafir Quraisy. Miqdad juga tampil sebagai prajurit yang tangguh. Diriwayatkan pula bahwa Miqdad merupakan orang pertama kali yang berperang di jalan Allah dengan menunggang kuda.

Miqdad bin Amr pernah tampil berbicara mengobarkan semangat di tengah ketakutan dan kegalauan kaum Muslimin dalam peperangan Badr karena kekuatan musuh yang begitu dahsyat. Miqdad berkata, "Wahai Rasulullah, teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, 'Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah', sedang kami akan mengatakan kepada anda, 'Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu'. Demi Dzat yang telah mengutus engkau membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan."

Kata-katanya mengalir laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Hingga merasuk ke dalam hati dan jiwa orang-orang Mukmin. Dan wajah Rasulullah pun berseri-seri seraya lisannya mengucapkan doa yang terbaik untuk Miqdad.

Dari ucapan yang dilontarkan Miqdad tadi, tidak saja menggambarkan jiwa kesatriaannya semata, tetapi juga melukiskan logikanya yang tepat dan pemikirannya yang mendalam. Itulah sifat Miqdad. Ia seorang filsuf dan pemikir. Hikmah dan filsafatnya tidak saja terkesan pada ucapan semata, tapi terutama pada prinsip-prinsip hidup yang kokoh dan perjalanan hidup yang teguh, tulus, dan lurus.

Miqdad bin Amru juga turut serta dalam Perang Uhud, Perang Khandaq, dan Perang Khaibar, sehingga ia mendapatkan posisi yang tinggi di sisi Rasulullah. Tidak mengherankan jika Rasulullah menikahkan Miqdad dengan sepupu beliau, Dhuba’ah binti Zubair bin Abdul Muththalib.

Miqdad juga turut serta dalam perang-perang penaklukan bersama pasukan Islam. Pada saat Amru bin Ash meminta tambahan pasukan kepada Khalifah Umar bin Khattab untuk membobol benteng Babilon, Umar bin Khattab mengirimkan 4.000 pasukan yang dipimpin oleh para sahabat senior, yaitu Zubair bin Awwam, Miqdad bin Amru, Ubadah bin Shamir, dan Maslamah bin Mukhallad. 

Miqdad juga pernah diangkat oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sebagai Amir di suatu wilayah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi bertanya, "Bagaimana dengan jabatanmu?"

Miqdad menjawab dengan jujur, “Engkau telah menjadikanku menganggap diri ini di atas rakyat sedang mereka di bawahku. Demi Dzat yang telah mengutusmu membawa kebenaran, mulai saat ini saya tidak akan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang."

Miqdad merasa saat menjadi Amir, lalu dirinya dikuasai kemegahan dan pujian. Kelemahan ini disadarinya hingga ia bersumpah akan menghindarinya dan menolak jika diminta untuk menjadi Amir lagi setelah pengalaman pahit itu. Dan ia menepati janjinya itu. Sejak saat itu, ia tak pernah menerima jabatan pemimpin.

Ia sering mengucapkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang berbunyi, "Orang yang berbahagia ialah orang yang dijauhkan dari kehancuran/fitnah."

Jika jabatan kepemimpinan dianggapnya suatu kemegahan yang menimbulkan atau hampir menimbulkan kehancuran ataupun fitnah bagi dirinya, maka syarat untuk mencapai kebahagiaan baginya ialah menjauhinya.

Kecintaannya pada Islam membuatnya kuat meninggalkan segala hal yang membuatnya jauh dari iman. Ia berkata, “Biarlah aku mati, asal Islam tetap jaya.”

Kecintaannya pada Islam membuat Miqdad bin Amru mendapatkan pujian dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam “Sungguh, Allah telah menyuruhku untuk mencintaimu, dan menyampaikan pesan-Nya kepadaku bahwa Dia mencintaimu.”

Di antara sikap bijaknya Miqdad bin Amru adalah kehati-hatiannya dalam menilai orang. Sikap ini juga ia pelajari dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang telah menyampaikan kepada umatnya, "Berubahnya hati manusia lebih cepat dari periuk yang sedang mendidih."

Miqdad sering menangguhkan penilaian terakhir terhadap seseorang sampai dekat saat kematian mereka. Tujuannya ialah agar orang yang akan dinilainya tidak mengalami hal baru lagi. Adakah perubahan setelah kematian?

Kisah Miqdad bin Amru sungguh sangat menginspirasi kita, mulai dari komitmennya untuk hidup dengan Islam, ketabahannya hingga Miqdad mampu membuat kita malu karena tipisnya keimanan kita pada godaan jabatan saat ini. Betapa banyaknya sebagian orang berlomba-lomba mendapatkan jabatan penting. Padahal semua jabatan itu hanya pembagian tugas, bukanlah sesuatu yang mulia di sisi-Nya. Mulianya kita, dilihat dari seberapa amanah kita pada jabatan yang ditugaskan. Bahkan seorang sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sangat berhati-hati dengan jabatan. Cukuplah kisah Miqdad bin Amru dengan kecintaannya terhadap Islam dapat sepenuhnya menjadi nasehat bagi kita. 

Agar bisa lebih menumbuhkan konsistensi terhadap tekad kita, totalitas kita terhadap amanah kita, serta kehati-hatian kita dalam menilai orang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Satu Cerita

Contoh Soal-Soal Sistem Informasi Kesehatan

Teks Doa Dies Natalis Kampus