R I N D U
Ada perasaan yang tidak bisa dikisahkan hanya dengan kata. Ia tumbuh dalam senyap, hadir dalam keheningan, dan menetap tanpa izin. Setiap hari, ada nama yang utama kali terlintas, bukan karena kebiasaan, tapi karena ada sesuatu yang tertinggal. Saat malam menyingkap, bintang-bintang tampak berbeda, ya, seolah mengerti bahwa ada hati yang sedang menanti tanpa suara.
Kopi pagi ini terasa lebih pahit, bukan karena takarannya salah, tapi karena biasanya ada senyum yang menyertainya. Langit biru tak lagi sebiru biasanya, seakan kehilangan sesuatu yang tak kasat mata. Setiap lagu yang diputar, nadanya membawa kenangan yang terlalu akrab. Waktu berjalan seperti biasa, tapi terasa lebih lambat.
Ada jeda di antara tawa dan diam yang tak bisa diisi dengan obrolan ringan. Bahkan suara notifikasi ponsel bisa membuat jantung berdetak lebih cepat, berharap itu datang dari satu nama yang tak pernah dilupakan. Dalam keramaian, ada ruang kosong yang tidak bisa diisi siapa pun. Dalam kesendirian, ada kehadiran yang selalu terasa walau tak terlihat.
Setiap tapak jalan yang pernah dilalui bersama kini menjadi lebih sunyi. Setiap tempat yang dulu berarti, kini terasa seperti museum kenangan. Bukan karena tempatnya berubah, tapi karena seseorang tak lagi ada di sana. Senja mentari yang tak lagi menenangkan, karena biasanya disaksikan berdua.
Langkah kaki sering kali membawa tubuh ke arah yang tak disengaja, tapi hati tahu ke mana ia ingin kembali. Kadang, tak ada kata yang bisa diucapkan, hanya tatapan yang menyimpan ribuan harapan. Bahkan hujan terasa seperti pelukan yang tertahan. Suara angin membawa bisikan, seolah menyampaikan kabar dari jauh penantian.
Ada malam-malam yang dihabiskan hanya untuk mengingat, bukan karena ingin terjebak, tapi karena tak ingin melupakan. Ada kekosongan yang tak bisa diisi oleh siapa pun, hanya oleh satu orang yang kini renggang. Terkadang, sebuah foto bisa saja membuat hati bergetar, seolah waktu tak pernah berjalan sejak terakhir kali bersama.
Bukan tak ingin melanjutkan hidup, tapi ada bagian yang masih menunggu untuk kembali lengkap. Bukan tak bahagia, tapi ada satu senyum yang selalu diupayakan. Dalam doa, selalu ada satu nama yang diselipkan diam-diam. Dalam hati, selalu ada ruang yang tidak pernah diganti.
Perasaan ini bukan kelemahan, melainkan daya untuk tetap setia pada sesuatu yang bermakna. Ia tak meminta balasan, hanya berharap waktu mempertemukan kembali. Ia tak tumbuh karena pertemuan, tapi karena makna yang ditinggalkan. Dan meskipun jarak menyisihkan, rasa itu tetap hidup, tetap hangat, tetap nyata.
Dirimu, laksana musim yang tak pernah benar-benar berlalu, aku menyimpan perasaan itu, seperti laut menyimpan rahasia ombaknya. Waktu berlalu, namun jejakmu tetap membekas seperti embun di ujung pagi. Sebait nama selalu kuselipkan dalam doa tanpa jeda.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar yang membangun